Kebakaran hebat melanda Tolikara dan meluluhlantakkan 100 bangunan dalam hitungan menit, Api menyebar cepat, warga panik menyelamatkan diri.
Peristiwa mengerikan kembali mengguncang Tanah Papua. Dalam waktu yang sangat singkat, kobaran api melahap ratusan bangunan di Tolikara hingga rata dengan tanah.
Warga tak sempat menyelamatkan harta benda, sementara api terus membesar dan menyebar tanpa kendali. Kejadian ini bukan hanya menyisakan puing-puing, tetapi juga duka mendalam bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal. Berikut kronologi lengkap di Papua Indonesia dan fakta-fakta mengejutkan di balik kebakaran hebat yang menggemparkan Tolikara ini.
Kebakaran Besar Melanda Pusat Aktivitas Warga Tolikara
Musibah kebakaran hebat mengguncang Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, dan menghanguskan sedikitnya 100 bangunan milik warga. Api melalap rumah, kios sembako, toko bangunan, hingga rumah kos dalam waktu singkat. Peristiwa ini membuat kawasan perdagangan di Kota Karubaga lumpuh total.
Kebakaran terjadi di wilayah Giling Batu hingga sebagian Jalan Kogome pada Rabu, 28 Januari 2026. Kobaran api muncul secara tiba-tiba dan cepat membesar, sehingga warga hanya sempat menyelamatkan diri tanpa mampu menyelamatkan barang berharga.
Suasana panik tak terhindarkan saat api menjalar ke bangunan lain yang saling berdekatan. Struktur bangunan semi permanen mempercepat penyebaran api hingga meratakan satu kawasan pemukiman dan pusat usaha warga.
Api Cepat Meluas Akibat Angin Dan Minim Sarana
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa kebakaran berkembang pesat karena kondisi angin yang bertiup cukup kencang di lokasi kejadian. Tiupan angin membuat api melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya tanpa bisa dikendalikan.
Keterbatasan fasilitas pemadam kebakaran di Tolikara menjadi kendala utama dalam penanganan awal. Tidak adanya armada pemadam khusus menyebabkan warga dan aparat hanya mengandalkan peralatan sederhana.
Proses pemadaman dilakukan menggunakan selang air dan mesin genset milik masyarakat. TNI dan Polri turut membantu dengan mengerahkan kendaraan operasional untuk mengangkut peralatan ke titik api.
Baca Juga:Â Gedung Gereja Silo Hangus, Markus Mansnembra Turun Tangan Langsung!
Ekskavator Diturunkan Untuk Cegah Api Menyebar
Selain pemadaman manual, satu unit ekskavator dikerahkan ke lokasi kebakaran. Alat berat ini digunakan untuk merobohkan bangunan di sekitar api guna memutus jalur rambatan.
Langkah tersebut dinilai efektif untuk mencegah api meluas ke area pemukiman lain. Bangunan yang sudah terbakar diratakan agar tidak memicu kobaran lanjutan.
Upaya gabungan antara warga, aparat, dan alat berat akhirnya berhasil mengendalikan situasi. Api dapat dipadamkan sepenuhnya setelah perjuangan berjam-jam di tengah kondisi yang serba terbatas.
Kerugian Capai Rp 22 Miliar, Penyebab Masih Diselidiki
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran ini menyebabkan kerugian materiil yang sangat besar. Nilai kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 22 miliar akibat rusaknya bangunan dan barang dagangan.
Polisi menduga kebakaran dipicu oleh korsleting listrik dari sebuah rumah kios milik warga. Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil olah tempat kejadian perkara dan keterangan sejumlah saksi.
Sejumlah barang bukti telah diamankan, termasuk kabel listrik terbakar dan peralatan instalasi. Garis polisi masih terpasang di lokasi, sementara aparat mengimbau warga untuk lebih waspada terhadap instalasi listrik guna mencegah kejadian serupa.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari metrotvnews.com