Peningkatan operasi militer di Puncak Papua memaksa warga sipil meninggalkan kampung dan bertahan di hutan demi keselamatan hidup.
Gelombang pengungsian massal kembali melanda wilayah pegunungan Papua, khususnya Kabupaten Puncak, akibat meningkatnya eskalasi konflik bersenjata. Situasi ini memaksa ribuan warga sipil, termasuk kelompok rentan, mengungsi ke hutan dan distrik sekitar. Laporan terbaru menyoroti dampak serius operasi militer terhadap kehidupan masyarakat dan upaya kemanusiaan.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Papua di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Papua Indonesia.
Eskalasi Konflik di Distrik Kembru
Sejak akhir Januari 2026, operasi militer telah berlangsung di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, memicu kekhawatiran serius. Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) melaporkan bahwa operasi darat dan udara dimulai pada Sabtu, 31 Januari 2026. Serangan ini secara langsung berdampak pada pemukiman warga sipil.
Distrik Kembru sendiri sebelumnya diklaim sebagai jalur logistik vital dan zona aman bagi warga yang telah mengungsi dari konflik di wilayah Pogoma. Ironisnya, wilayah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan ini justru menjadi sasaran serangan. Pernyataan dari KOMNAS TPNPB menegaskan bahwa Kembru adalah jalur utama bagi pengungsi untuk mengakses kebutuhan pangan.
Rangkaian serangan tersebut, termasuk dugaan penggunaan drone untuk pemboman di pemukiman, telah memperparah kondisi. Sejak Jumat, 6 Februari 2026, juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, merinci bahwa insiden ini telah memaksa masyarakat untuk kembali mengungsi, meninggalkan bahkan lokasi yang sebelumnya dianggap aman.
Dampak Kemanusiaan Dan Pengungsian Massal
Konflik bersenjata ini telah menyebabkan gelombang pengungsian massal yang luas, menjangkau sejumlah kampung di Distrik Kembru, termasuk Nilome, Makuma, Tenoti, dan Aguit. Warga dari berbagai lokasi kini melarikan diri ke Distrik Sinak dan Distrik Yambi, sementara sebagian besar memilih hutan sebagai tempat perlindungan dari zona kontak tembak.
Dampak kemanusiaan semakin diperburuk oleh terputusnya akses komunikasi di wilayah tersebut pada akhir pekan lalu. Kondisi ini menyulitkan pemantauan situasi secara langsung, menghambat upaya bantuan, dan meningkatkan ketidakpastian bagi para pengungsi. Konflik ini bahkan telah memperluas sebaran pengungsi hingga ke Kabupaten Puncak Jaya.
Pusat Informasi Sosial (PIS) TPNPB menyoroti penderitaan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Mereka terpaksa menempuh perjalanan puluhan kilometer di medan pegunungan yang sulit, membawa peralatan seadanya untuk bertahan hidup di hutan. Keterbatasan logistik dan situasi keamanan juga menyebabkan beberapa warga sakit terpaksa ditinggalkan.
Baca Juga:Â Jadi Agen BRILink, Wanita Papua Dorong Perekonomian Desa Berkembang
Kehilangan Jalur Aman Dan Logistik
Distrik Kembru, yang vital sebagai jalur logistik, kini tidak lagi aman. KOMNAS TPNPB menegaskan bahwa wilayah ini berfungsi sebagai penghubung utama bagi pengungsi untuk mendapatkan pasokan pangan dari Bina dan Sinak. Serangan terhadap jalur ini mengancam kelangsungan hidup ribuan warga sipil yang bergantung padanya.
Serangan yang menargetkan pemukiman dan lokasi pengungsian, termasuk dugaan pemboman menggunakan drone, telah meruntuhkan rasa aman. Area yang sebelumnya ditetapkan sebagai tempat perlindungan kini tidak dapat diandalkan lagi. Hal ini menimbulkan tantangan besar dalam upaya kemanusiaan dan perlindungan warga sipil.
Situasi ini menciptakan dilema berat bagi pengungsi, yang dipaksa berpindah dari satu tempat yang tidak aman ke tempat lain. Hutan, yang menjadi pilihan terakhir, menawarkan perlindungan yang minim dari segi logistik dan fasilitas. Keterbatasan ini memperparah risiko kesehatan dan kelangsungan hidup bagi mereka yang rentan.
Penderitaan Kelompok Rentan di Tengah Hutan
Kondisi para pengungsi di hutan sangat memprihatinkan, terutama bagi kelompok rentan. Bayi dan anak-anak menghadapi risiko tinggi terhadap penyakit dan kurang gizi akibat kondisi yang tidak higienis dan terbatasnya akses pangan. Mereka membutuhkan perhatian khusus yang sulit diberikan dalam situasi darurat ini.
Ibu hamil dan lansia juga mengalami kesulitan ekstrem, dengan beberapa di antaranya terpaksa berjalan kaki jauh melintasi medan pegunungan yang terjal. Beban fisik dan emosional yang mereka alami sangat besar, diperparah oleh ketiadaan fasilitas medis yang memadai. Mereka bertahan hidup dengan peralatan seadanya.
Laporan PIS TPNPB menyoroti dampak tragis keterbatasan logistik dan keamanan. Beberapa warga yang sakit parah terpaksa ditinggalkan di lokasi pengungsian sementara karena tidak ada sarana untuk evakuasi atau perawatan. Situasi ini menunjukkan urgensi intervensi kemanusiaan yang lebih besar di Kabupaten Puncak.
Jangan lewatkan update berita seputaran Papua Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari papua.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari antaranews.com