Mahasiswa Papua di Surabaya galang dana untuk korban kebakaran Tolikara, tunjukkan solidaritas dan kepedulian nyata bagi sesama.
Solidaritas melintasi jarak! Mahasiswa Papua di Surabaya bergerak galang dana untuk meringankan beban korban kebakaran Tolikara. Aksi Papua Indonesia membuktikan kepedulian dan semangat gotong royong tetap hidup, meski jarak memisahkan.
Mahasiswa Papua Galang Dana Untuk Korban Kebakaran Tolikara
Sejumlah mahasiswa dan pelajar asal Papua Pegunungan yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Papua Tolikara (IKB-PMPT) menggelar penggalangan dana untuk membantu korban kebakaran besar di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kampung halaman yang terdampak bencana.
Kebakaran terjadi pada 5 Februari 2026, menghanguskan 179 bangunan, termasuk rumah warga dan ruko, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp 222 miliar. Ratusan warga kehilangan tempat tinggal, sekaligus sumber mata pencaharian mereka yang terbakar habis.
Mahasiswa Papua di Surabaya memutuskan mengambil peran aktif, menggalang dana langsung di jalanan dan titik strategis, agar bantuan bisa tersalurkan dengan cepat tanpa harus menunggu birokrasi panjang dari pemerintah daerah.
Kronologi Terbakarnya Tolikara
Menurut Nendi Gire, perwakilan IKB-PMPT, kebakaran bermula dari kompor gas yang menyala di salah satu rumah warga. Api kemudian menjalar ke bahan bangunan yang mudah terbakar seperti triplek. Karena rumah-rumah berdempetan, api dengan cepat melahap seluruh kampung.
Awalnya dari kompor gas, lalu apinya kena triplek. Rumah-rumah saling menempel, sehingga api menyebar sangat cepat, jelas Nendi saat ditemui di lokasi penggalangan dana di Surabaya, Selasa (10/2/2026).
Kurangnya fasilitas pemadam kebakaran lokal memperparah kondisi. Warga berupaya memadamkan api secara manual, namun tidak cukup kuat menghadapi kobaran yang terus membesar hingga sebagian besar pemukiman musnah.
Baca Juga:Â Terungkap! Amnesty dan DPD RI Bahas Isu HAM Papua Secara Mendalam
Dampak Sosial Dan Ekonomi
Akibat kebakaran, tidak hanya rumah yang hilang, tetapi juga ruko yang menjadi tempat usaha. Aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh total, dan warga harus menunda pemulihan hidup mereka hingga bantuan tiba.
Pemerintah daerah Papua Pegunungan dan Kabupaten Tolikara telah mengajukan bantuan ke pemerintah pusat, namun bantuan yang sampai ke warga masih terbatas. Banyak warga mengandalkan swadaya lokal dan bantuan komunitas untuk bertahan sementara.
Nendi menegaskan penggalangan dana mahasiswa penting karena bisa langsung menyentuh korban. Aksi ini memberikan harapan sekaligus memperlihatkan solidaritas tinggi generasi muda Papua terhadap kampung halaman mereka.
Penggalangan Dana Di Surabaya
Di Surabaya, mahasiswa Papua melakukan penggalangan dana di lampu merah Lidah Wetan sejak pagi hingga siang hari. Mereka menyiapkan poster, selebaran, dan kotak donasi untuk menarik perhatian masyarakat agar ikut membantu.
Selain Surabaya, teman-teman juga melakukan penggalangan dana di Yogyakarta. Ini bagian dari upaya menyebarkan kepedulian masyarakat di luar Papua, kata Nendi. Mahasiswa dari berbagai latar belakang dan jurusan bekerja sama untuk memastikan kegiatan berjalan lancar.
Rencananya, penggalangan dana akan kembali digelar pada Jumat dan Sabtu di beberapa titik strategis Surabaya, dengan target jumlah donasi yang lebih besar, agar semakin banyak warga Tolikara yang merasakan manfaat langsung dari bantuan tersebut.
Semangat Solidaritas Mahasiswa Papua
Aksi mahasiswa ini menunjukkan bahwa solidaritas tidak mengenal jarak. Meskipun jauh dari kampung halaman, mereka tetap peduli dan berusaha meringankan penderitaan korban kebakaran.
Selain mengumpulkan dana, mahasiswa Papua juga aktif menyebarkan informasi mengenai kondisi korban melalui media sosial. Tujuannya agar perhatian publik dan pemerintah lebih cepat tertuju pada korban, sekaligus mempermudah koordinasi bantuan.
Inisiatif ini menjadi contoh nyata peran generasi muda dalam membantu masyarakat terdampak bencana. Aksi mereka tidak hanya soal materi, tetapi juga membangun kesadaran sosial dan tanggung jawab kolektif bagi kemanusiaan di Papua.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari surabaya.kompas.com
- Gambar Kedua dari ceposonline.com