Solusi banjir Jayapura disorot pakar teknik Yan Ukago, ia ungkap potensi risiko teknis yang dinilai perlu evaluasi mendalam.
Penanganan banjir di Jayapura kembali menjadi perhatian publik. Di tengah upaya pemerintah daerah mencari solusi, pakar teknik Yan Ukago menyampaikan sejumlah catatan penting terkait potensi risiko teknis yang dinilai perlu dikaji ulang. Sorotan ini memicu diskusi mengenai efektivitas perencanaan serta dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan keselamatan warga.
Jangan lewatkan beragam informasi menarik dan tepercaya seputar Papua di bawah ini untuk memperkaya wawasan anda hanya di berita Papua Indonesia.
Kebijakan Penanganan Banjir Di Entrop Jadi Sorotan
Keputusan Pemerintah Kota Jayapura meninggikan jembatan dan badan jalan di kawasan Entrop sebagai solusi banjir memicu perdebatan. Kebijakan tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan tata kelola air di wilayah itu. Langkah peninggian infrastruktur dianggap sebagai respons cepat atas genangan yang kerap melumpuhkan aktivitas warga. Namun, sejumlah kalangan menilai pendekatan tersebut terlalu sederhana untuk masalah yang kompleks.
Kawasan Entrop selama ini memang dikenal sebagai titik rawan banjir ketika curah hujan tinggi mengguyur kota. Kondisi topografi dan sistem drainase yang terbatas disebut menjadi faktor utama terjadinya genangan. Alih-alih meredam risiko, kebijakan tersebut justru dikhawatirkan menimbulkan dampak lanjutan bagi lingkungan sekitar. Kritik pun muncul dari praktisi teknik yang menilai perlunya perencanaan lebih komprehensif.
Pandangan Kritis Ir Yan Ukago
Salah satu suara yang menyoroti kebijakan ini adalah Ir Yan Ukago, praktisi teknik sipil berpengalaman di Papua. Ia menilai solusi peninggian jalan berpotensi memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Menurutnya, pendekatan tersebut cenderung pragmatis dan tidak berbasis pada kajian hidrologi menyeluruh. Tanpa analisis menyeluruh, risiko genangan di wilayah permukiman sekitar justru bisa meningkat.
Ukago menekankan bahwa persoalan banjir tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah tinggi struktur fisik. Diperlukan perhitungan matang terhadap kapasitas tampung air dan arah aliran limpasan. Ia mengingatkan bahwa setiap perubahan elevasi lahan akan memengaruhi keseimbangan air di kawasan sekitarnya. Karena itu, kebijakan teknis harus mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Baca Juga:Â Mencekam! KKB Bakar Pos PT Kristalin, 240 Pekerja Tambang Dievakuasi
Rekam Jejak Di Dunia Konstruksi Papua
Nama Yan Ukago bukan sosok baru dalam pembangunan infrastruktur di Papua. Ia terlibat dalam berbagai proyek strategis yang menjadi landmark di daerah tersebut. Beberapa proyek yang pernah ia tangani antara lain Auditorium Universitas Cenderawasih serta Hotel Aston Jayapura. Ia juga berkontribusi dalam pembangunan Kantor Wali Kota Jayapura dan GOR Waringin.
Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Provinsi Papua Tengah periode 2022 sampai 2025. Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya dalam melihat persoalan tata ruang dan infrastruktur. Dengan latar belakang tersebut, kritik yang ia sampaikan dinilai bukan sekadar opini biasa. Ia berbicara berdasarkan pengalaman teknis dan pemahaman terhadap karakteristik wilayah Papua.
Prinsip Alam Dalam Pengendalian Banjir
Dalam penjelasannya, Ukago menyoroti prinsip dasar pergerakan air yang kerap diabaikan. Air akan selalu mencari ruang kosong ketika jalurnya dipersempit atau terhalang. Ketika badan jalan atau jembatan ditinggikan, ruang genangan alami otomatis berkurang. Akibatnya, volume air yang sama akan terdorong ke area lain yang lebih rendah.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi muka air di lingkungan permukiman sekitar. Jika sebelumnya genangan hanya setinggi lutut, bukan tidak mungkin setelah peninggian menjadi lebih tinggi. Ia menegaskan bahwa fenomena itu bukan kesalahan struktur jalan semata. Menurutnya, itu adalah konsekuensi hukum alam yang harus dipahami sebelum mengambil keputusan teknis.
Dampak Sosial Dan Pentingnya Perencanaan Terpadu
Yan Ukago juga menyinggung praktik penimbunan lahan rumah secara mandiri oleh warga. Langkah tersebut sering dilakukan demi menghindari genangan di halaman sendiri. Namun, tindakan individual tanpa koordinasi justru dapat memperburuk kondisi lingkungan sekitar. Air yang kehilangan ruang resapan akan mengalir ke rumah tetangga yang lebih rendah.
Fenomena ini menggambarkan pentingnya penanganan banjir secara kolektif dan terintegrasi. Solusi parsial hanya akan memindahkan risiko dari satu titik ke titik lainnya. Ia mendorong pemerintah untuk mengedepankan kajian komprehensif berbasis data hidrologi dan tata ruang. Dengan perencanaan terpadu, penanganan banjir di Jayapura diharapkan lebih efektif dan berkelanjutan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama: www.google.com
- Gambar Kedua: www.google.com