Hujan deras mengguyur Kabupaten Keerom Papua sejak dini hari hingga siang hari dan menyebabkan sejumlah sungai meluap.

Curah hujan tinggi yang berlangsung cukup lama membuat air dengan cepat menggenangi permukiman warga. Akibat peristiwa ini, sebanyak 348 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 cm.
Wilayah yang terdampak umumnya berada di daerah dataran rendah serta dekat dengan aliran sungai. Warga menyebut hujan turun tanpa henti disertai angin kencang sehingga air dengan cepat masuk ke dalam rumah, halaman, dan fasilitas umum di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Papua di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Papua Indonesia.
Sebanyak 348 Rumah Terendam Air
Data sementara dari aparat setempat mencatat sedikitnya 348 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter. Genangan air tersebut merata di beberapa distrik yang berada dekat aliran sungai dan daerah rawan banjir.
Perabot rumah tangga, bahan makanan, serta peralatan kerja milik warga ikut terendam. Beberapa rumah panggung masih dapat dihuni, namun rumah non permanen mengalami dampak paling parah akibat tekanan arus air yang cukup kuat.
Kondisi Lingkungan dan Faktor Penyebab
Hujan deras yang memicu banjir tidak terlepas dari kondisi cuaca ekstrem yang belakangan sering terjadi di wilayah Papua. Selain faktor alam, kondisi lingkungan turut memperparah dampak banjir.
Berkurangnya daerah resapan air akibat perubahan fungsi lahan menyebabkan air hujan langsung mengalir ke permukiman.
Sungai yang mengalami pendangkalan juga memicu luapan air lebih cepat saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Faktor ini membuat wilayah Keerom menjadi lebih rentan terhadap banjir.
Baca Juga: Kantor Penting Pemerintah Papua Terendam Banjir Enam Kali, Ini Solusi Dramatisnya!
Upaya Penanganan dan Bantuan Darurat

Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri telah melakukan langkah penanganan darurat dengan memantau kondisi banjir di lapangan. Petugas membantu warga mengevakuasi barang penting ke tempat yang lebih aman serta mendistribusikan bantuan logistik.
Bantuan berupa beras, mie instan, air minum, dan selimut mulai disalurkan kepada warga terdampak. Pemerintah juga menyiagakan layanan kesehatan untuk mengantisipasi penyakit yang berpotensi muncul akibat lingkungan yang lembap dan kotor.
Selain curah hujan yang tinggi, kondisi geografis Keerom yang didominasi dataran rendah dan aliran sungai berkelok mempercepat terjadinya genangan. Tanah yang jenuh air tidak mampu lagi menyerap hujan, sehingga limpasan mengalir ke permukiman.
Warga menyebut banjir kali ini termasuk yang cukup besar dibandingkan kejadian sebelumnya karena air bertahan lebih lama dan merata di banyak titik. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terutama bagi keluarga dengan balita dan lansia.
Di beberapa kampung, warga bergotong royong membuat tanggul darurat dari karung pasir untuk menahan aliran air agar tidak semakin masuk ke rumah. Aktivitas memasak dilakukan secara terbatas dengan peralatan seadanya.
Meski dalam keterbatasan, solidaritas antarwarga terlihat kuat dengan saling berbagi makanan dan tempat mengungsi sementara. Aparat kampung terus berkoordinasi dengan pemerintah distrik untuk melaporkan perkembangan kondisi banjir setiap waktu.
Dampak Banjir Terhadap Kehidupan Warga
Banjir yang melanda Keerom Papua memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Banyak warga terpaksa mengungsi ke rumah keluarga atau tetangga yang lokasinya lebih tinggi.
Perabot rumah tangga, peralatan elektronik, hingga bahan makanan rusak akibat terendam air. Aktivitas warga terganggu karena akses jalan antar kampung tidak dapat dilalui.
Anak anak dan lansia menjadi kelompok yang paling terdampak karena membutuhkan bantuan khusus. Selain itu, kegiatan sekolah dan ekonomi warga terpaksa dihentikan sementara hingga kondisi kembali normal.